Masyarakat dan Agama
Disusun Oleh :
Hendy Kurnia Pamungkas
Kelas 1 IA 16
TEKNIK INFORMATIKA
Alamat :
Jl. Margonda Raya 100, Depok Jawa
Barat, Indonesia
Kode Pos : 16424
E-mail :
mediacenter [@] gunadarma.ac.id
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat
Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena, atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan
tugas makalah “Agama
Dan Msyarakat” mata
kuliah Sosial Dasar, yang diberikan oleh dosen untuk dapat diselesaikan dengan
sebaik mungkin. Shalawat
serta salam semoga selalu tercurahkan pada Rasulullah Muhammad
Shalaulahu’alaihi wasalam, keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang agung
sampai akhir zaman nanti.
Saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman serta
dosen pembimbing yang setia mendampingi, memberi semangat dan juga arahan kepada saya untuk dapat menyusun makalah ini.
Dalam
penyusunan makalah ini, saya menyadari masih banyak kekurangan yang ada dalam makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan juga saran yang bersifat
membangun dari para pembaca sangat diharapkan untuk penyusunan makalah
selanjutnya agar lebih baik.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi
para pembacanya. Terima
kasih.
Depok, 18 Desember 2017
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ...................................................................................
i
DAFTAR
ISI ................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang ..............................................................................
1
1.2
Rumusan
Masalah .........................................................................
2
1.3
Tujuan
Makalah .............................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Agama…………………........... .....................................3
2.1 Pengertian Masyarakat…………….................................................3
2.2 Ruang Lingkup Masyarakat
terhadap Agama..................................4
2.3 Fungsi Agama dalam
masyarakat....................................................4
2.4 Pelembagaan Agama
.......................................................................5
2.4.1Pengaruh Golongan Masyarakat
terhadap agama......................5
2.4.2Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan…..............................6
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan ......................................................................................
7
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
8
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kaitan
agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama yang meliputi
penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi
rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan kesadaran akan
maut menimbulkan religi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sampai pada
pengalaman agamanya para tasawuf. Bukti diatas sampai pada pendapat bahwa agama
merupakan tempat mencari makna hidup yang final. Kemudian pada urutannya agama
yang diyakininya merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan
sosial dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan masyarakat, dimana
pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tingkatan sosial, dan individu
dengan masyarakat seharusnya tidak bersifat antagonis.
Membicarakan
peranan agama dalam kehidupan sosial menyangkut dua hal yang sudah tentu
hubungannya erat, memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu pengaruh dari
cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas sosial dan
grup sosial, perseorangan dan kolektivitas, dan mencakup kebiasaan dan cara
semua unsur asing agama diwarnainya. Yang lainnya juga menyangkut organisasi
dan fungsi lembaga agama sehingga agama dan masyarakat itu berwujud
kolektivitas ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, yang mempunyai seperangkat arti
mencakup perilaku sebagai pegangan individu dengan kepercayaan dan taat kepada
agamanya. Agama sebagai suatu sistem mencakup individu dan masyarakat, seperti
adanya emosi keagamaan, keyakinan terhadap sifat faham, ritual, serta umat atau
kesatuan sosial yang terkait agamanya. Agama dan masyarakat dapat pula
diwujudkan dalam sistem simbol yang memantapkan peranan dan motivasi
manusianya, kemudian terstrukturnya mengenai hukum dan ketentuan yang berlaku
umum, seperti banyaknya pendapat agama tentang kehidupan dunia seperti masalah
keluarga, bernegara, konsumsi, produksi, hari libur, prinsip waris, dan
sebagainya.
Kebutuhan
dan pandangan kelompok terhadap prinsip keagamaam berbeda-beda. Karena itu kebhinekaan
kelompok dalam masyarakat akan mencerminkan perbedaan jenis kebutuhan
keagamaan.
1
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari agama?
2. Apa pengertian dari masyarakat ?
3. Mengapa
agama dan masyarakat di kaitkan?
4. Hubungan nya agama dan masyarakat seperti apa?
1.3 TUJUAN
MAKALAH
Tujuan dari penuliasan makalah ini adalah untuk mengetahui
apa yang di maksud Agama dan Masyarakat secara berkaitkan
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1Pengertian
Agama
Pengertian
agama menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah agama merupakan system yang
mengatur semua tata kepercayaan dan juga kepribadian kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa beserta tata kaidah yang selalu berhubungan dengan pergaulan manusia
serta lingkungannya. Kata agama berasal dari Bahasa sansekerta yang berarti
tradisi, sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang
berasal dari Bahasa latin yaitu religio dan berakar pada kata kerja re-ligare
yang berarti mengikat kembali. Maksudnya adalah
dengan religi maka seseorang
dapat mengikat dirinya kepada
tuhan.
Pengertian
agama menurut M. Hasbi Alshiddiqy adalah tuntunan yang melengkapi segala segi
dan suatu peruangan untuk memperoleh kekayaan dunia dan kesentosaan akhirat,
pengertian agama menurut Emile Durkheim adalah suatu sisten yang terpadu yang
terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci.
Dan pengertian agama menurut Syaikh Taqyuddin
An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat
apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan
kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka
berdasarkan kemaslahatan.
2.2 Pengertian
Masyarakat
Pengertian masyarakat menurut para
ahli yang mengetahui arti dan juga wawasan dari masyarakat seperti.
Selo Soemardjan, definisi masyarakat
adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
Karl Marx, definisi masyarakat ialah
keseluruhan hubungan – hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang
berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya.
Harold j. Laski, definisi masyarakat
adalah suatu kelompok manusia yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai
terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama.
Peter l. Berger, definisi masyarakat
adalah suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya.
Keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu terdiri atas
bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan .
Gillin & Gillin, definisi
masyarakat adalah kelompok manusia yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap,
dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.
2.2 Ruang Lingkup Masyarakat terhadap Agama
Secara garis besar ruang lingkup Masyarakat terhadap
agama sudah mencangkup:
1.Hubungan manusia dengan tuhan
Hubungan dengan tuhan itulah yang betujuan agar dapat mendekatkan
Hubungan dengan tuhan itulah yang betujuan agar dapat mendekatkan
diri dengan manusia kepada tuhan yang ia
percaya untuk dapat
beribadah.
2.Hubungan antar sesame manusia
Agama
memiliki tujuan yaitu keharmonisan dalam berinteraksi antar
sesame manusia.
Dan tujuan tersebut memberikan sebuah gambaran
tentang
ajaran yang di terapkan oleh agama mengenai hubungan
manusia
dengan manusia yang disebut sebagai ajaran bermasyarakat
3
2.3 Fungsi Agama Dalam Masyarakat
Fungsi
agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu
kebudayaan, system social, dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan
kompleks fenomena social terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku
manusia, sehingga timbul pertanyaan, sejauh mana fungsi lembaga agama dalam
memelihara system, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu
system, dan sejauh manakah agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi
melakukan fungsinya. Agama merupakan salah satu prinsip yang (harus)
dimiliki oleh setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam kehidupan mereka.
Tidak hanya itu, secara individu agama bisa digunakan untuk menuntun kehidupan
manusia dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari. Adapun fungsi agama adalah
sebagai berikut :
1.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada
kerangkaacuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan
sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan
memaksa istimewa, karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan
supramanusiawi dan ukhrowi.
- Fungsi
agama di bidang sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan
suatu ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa mayarakat
maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan
mereka.
- Fungsi Penyelamat. Dimanapun manusia berada, dia
selalu menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang diberikan oleh agama
meliputi kehidupan dunia dan akhirat. Charles Kimball dalam bukunya Kala
Agama Menjadi Bencana melontarkan kritik tajam terhadap agama monoteisme
(ajaran menganut Tuhan satu). Menurutnya, sekarang ini agama tidak lagi
berhak bertanya: Apakah umat di luat agamaku diselamatkan atau tidak?
Apalagi bertanya bagaimana mereka bisa diselamatkan? Teologi (agama) harus
meninggalkan perspektif (pandangan) sempit tersebut. Teologi mesti terbuka
bahwa Tuhan mempunyai rencana keselamatan umat manusia yang menyeluruh.
Rencana itu tidak pernah terbuka dan mungkin agamaku tidak cukup menyelami
secara sendirian. Bisa jadi agama-agama lain mempunyai pengertian dan
sumbangan untuk menyelami rencana keselamatan Tuhan tersebut. Dari
sinilah, dialog antar agama bisa dimulai dengan terbuka dan jujur serta
setara.
- Fungsi Kontrol Sosial. Ajaran agama membentuk
penganutnya makin peka terhadap masalah-masalah sosial seperti,
kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Kepekaan
ini juga mendorong untuk tidak bisa berdiam diri menyaksikan kebatilan
yang merasuki sistem kehidupan yang ada.
- Fungsi Perdamaian. Melalui tuntunan agama
seorang/sekelompok orang yang bersalah atau berdosa mencapai kedamaian
batin dan perdamaian dengan diri sendiri, sesama, semesta dan Alloh. Tentu
dia/mereka harus bertaubat dan mengubah cara hidup.
- Fungsi Edukatif (Pendidikan). Ajaran agama secara
yuridis (hukum) berfungsi menyuruh/mengajak dan melarang yang harus
dipatuhi agar pribagi penganutnya menjadi baik dan benar, dan terbiasa
dengan yang baik dan yang benar menurut ajaran agama masing-masing.
4
Masalah
fungsionalisme agama dapat dinalisis lebih mudah pada komitmen agama, menurut
Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek,
pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi.
- Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau
harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis
tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran agama.
- Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja
dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara
nyata. Ini menyangkut, pertama, ritual, yaitu berkaitan dengan seperangkat
upacara keagamaan, perbuatan religius formal, dan perbuatan mulia. Kedua,
berbakti tidak bersifat formal dan tidak bersifat publik serta relatif
spontan.
- Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa
semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar
religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan
subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan, meskipun singkat,
dengan suatu perantara yang supernatural.
- Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan,
bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang
ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi
keagamaan mereka.
- Dimensi konsekuensi dari komitmen religius
berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.
5
2.4 Pelembagaan
Agama
Agama begitu
universal atau bahkan permanen(secara langsung saat melahirkan), dan mengatur dalam kehidupan. Sehingga bila tidak
memehami agama, akan sukar memahami masyarakat. Hal yang perlu dijawab dalam
memahami lembaga agama adalah
Dengan mengetahui
struktur agama dan serta fungsi agama.Dimensi ini mengidentifikasi pengaruh-pengaruh
kepercayaan, praktek, pengalaman, dan pengatahuan keagamaan didalam kehidupan
sehari-hari. Terkandung makna ajaran “kerja” dalam pengertian teologis.
Salah
satu pelembagaan agama di Indonesia yang mengurusi agamanya hingga saat ini
- Islam :
MUI atau Majelis Ulama Indonesia adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang
mewadahi ulama, zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk
membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.
- Kristen : Persekutuan Gereja-gereja Indonesia
(PGI) (dulu disebut Dewan Gereja-gereja di Indonesia – DGI) didirikan pada
25 Mei 1950 di Jakarta sebagai perwujudan dari kerinduan umat Kristen di
Indonesia untuk mempersatukan kembali Gereja sebagai Tubuh Kristus yang
terpecah-pecah.
- Katolik : Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI
atau Kawali) adalah organisasi Gereja Katolik yang beranggotakan para
Uskup di Indonesia dan bertujuan menggalang persatuan dan kerja sama dalam
tugas pastoral memimpin umat Katolik Indonesia.
- Hindu : Parisada Hindu Dharma Indonesia (
Parisada ) ialah: Majelis tertinggi umat Hindu Indonesia.
- Budha : MBI Majelis Buddhayana Indonesia adalah
majelis umat Buddha di Indonesia. Mangunkawatja.
- Konghucu : MATAKIN Majelis Tinggi Agama Khonghucu
Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama
Khonghucu di Indonesia.
2.4.1 Pengaruh Golongan Masyarakat
terhadap agama
Pengaruh
Golongan Masyarakat terhadap agama, ada tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu
kebudayaan, system social, dan kepribadian ketiga aspek itu merupakan fenomena
social yang prilaku manusia. Maka timbul pertanyaan sejauh mana fungsi lembaga
agama, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu system? Dan
sejauh mana fungsi agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi.
Berkaitan
dengan hal ini, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama
dengan masyarakat yang menurutnya, terbagi tipe-tipe. Tampaknya pembagia ini
mengikutui konsep August Comte tentang proses tahapan pwembentukan masyarakat.
Adapun tipe-tipe yang di maksud Nottingham itu adalah sebagai berikut.
1.
Masyarakat
yang terbelakang dan nilai-nilai sacral. Tipe masyarakat ini kecil, terisolasi
dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Tidak ada
lembaga lain yang relative berkembang selain lembaga keluarga, agama menjadi
focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan masyarakat dari masyatakat
secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemungkinan agama memasukan pengaruh yang
sacral ke dalam system nilai-nilai masyarakat sangat mutlak.
2.
Masyarakat praindustri yang sedang berkembang.
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih
tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system
nilai dalam tipe masyarakat ini. Tetapi, pada saat yang sama, lingkungan yang
sacral dan yang sekuler sedikit-banyak masih dapat dibedakan. Misalnya, pada
fase-fase kehidupan social masih diisi oleh upacara-upacara keagamaan, tetapi
pada sisi kehidupan lain, pada aktivitas sehari-hari, agama kurang mendukung.
Agama hanya mendukung masalah adat-istiadat saja.Nilai-nilai keagamaan dalam
masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku
perseorangan, dan pembentukan citra pribadi mempunyai konsekuensi penting bagi
agama.Salah satu akibatnya,anggota masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan
metode empiris yang berdasarkan penalaran dan efesiensi dalam menanggapi
masalah- masalah kemanusiaan sehingga lingkungan yang bersifat sekuler semakin
meluas.
2.4.2 Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan
Tujuan pembangunan pada mulanya
sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan.
Ketika decade pembangunan dicanangkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB),
segera setelah perang dunia kedua, masalah yang dihadapi saat itu adalah
kehancuran ekonomi dan prasarana dari Negara-negara yang kalah atau menjadi
korban peperangan. Oleh karena itu,perhatian ulama pembangunan ditekankan pada
rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-sarana ekonomi.
5
Membahas peranan para pemimpin
agama dalam kegiatan pembangunan memang sangat menarik, bukan saja lantaran
para pemimpin agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga
pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat
utuh dan serasi antara kemajuaan aspek lahiriah dan kepuasan aspek bathiniah.
Corak pembangunan seperti ini didasarkan pemikiran bahwa keberadaan manusia
yang akan dibangun, pada dasarnya, terdiri atas unsure jasmaniah dan unsure
ruhaniah. Kedua unsure ini tentu harus terisi dalam proses pembangunan.
1. Pemimpin Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat di sangkal bahwa
peran para pemimpin agama sebagai motivator pembangunan sudah banyak di akui
dan terbukti di masyarakat.
2. Pemimpin Agama Sebagai Pembimbing
Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin
agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran
yang berkaitan dengan upaya-upaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral
masyarakat. Dalam kaitannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran
aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual
serta peningkatan pengalaman agama, baikdalam kehiduan pribadi maupun social.
6
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat
diambil kesimpulan bahwa :
1.
Agama menurut kamus besar Bahasa Indonesia
adalah agama merupakan system yang mengatur semua tata cara kepercayaan dan
juga kepribadian manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
2.
Secara garis besar ruang
lingkup Masyarakat terhadap agama sudah mencangkup hubungan manusia dengan tuhan
dan juga hubungan antar sesame manusia
3.
Hal yang perlu dijawab dalam memahami lembaga agama
adalah dengan mengetahui struktur agama dan serta fungsi agama
4.
Agama merupakan salah satu prinsip yang (harus)
dimiliki oleh setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam kehidupan mereka
5.
Golongan
Masyarakat terhadap agama, ada
tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu kebudayaan, system social, dan
kepribadian
6.
Tujuan pemimpin dalam pembangunan pada mulanya
sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan
7
Daftar Pustaka
Dr.M.Munandar Soelaeman,ILMU SOSIAL DASAR.
Agus, Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan
Masyarakat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
Afrianto, Anton. Makalah Agama dan
Masyarakat, Jakarta 2013.
8

Komentar
Posting Komentar